Jumat, 28 November 2014

O Canto Era : with Fandom SUPERNOVA:GELOMBANG

--
O' Canto Era
By: @chynsetyo
Fandom: Supernova : GELOMBANG
*kalimat yang terdapat dalam novel asli karya Dee ini.
...
Antarabhava. Asko. 

Dua kata itu berputar muluk dalam garis kronologisku yang sejatinya tak pernah menyatu dari tiap tariknya. Dua kata itu, seolah mengecohku dan menciptakan sensasi anagram yang sejujurnya tak pernah ada.

Dahulu, ketika tapak kakiku tak mengendus adanya kekeliruan. Ketika aku masih bernapas bersama gunung dan alam*. Ketika hidup tentramku di Sianjur Mula - Mula. Dua kata itu melingkup dalam surut ketakutanku yang mendalam. Peristiwa gondang itu yang menemukanku atas suatu titik suaka tak bernama, Si Jaga Portibi. Ketika Ompu Togu Urat dan Ompu Ronggur Panghutur berkelakar ria tanpa kumengerti siapa yang harus kubela. Dan, ketika itu aku sadar, sulit berdiri di antara pusaran kebimbangan, di saat aku harus menentukan mana yang baik mana yang buruk.

Aku yang mengatur. Thomas Alfa Edison yang mengatur. Alfa Sagala yang mengatur. Dan, kembali aku dipusingkan dengan satu perihal: siapa 'aku' itu?

Seharusnya aku mengerti, gelombang, aku hanyalah raga yang menjadi penopang gelombang itu. 

Namun, sebelum aku memasuki Asko secara keseluruhan, ketakutan itu membuai semakin lama. Semakin larut. Bahkan membutakanku akan sesuatu.

Jika memang benar, sang peretas itu yang mengatur segala ini, penjaga kedai, Norbu, pesan - pesan di kehidupan silam. Kembali jajaran spekulasiku menyerbu, seolah membentuk tombak yang menebasku luput.

Dan kembali aku dihadapkan atas kebimbangan.

Jika memang benar, aku menggantikan posisi Eten dan berimigrasi dengan status ilegal itu sebuah kebetulan, seseorang akan berkata, ah, bukan seseorang. Entah apa itu. Kebetulan itu tidak ada seharusnya, jika segala telah digariskan dalam waktu dan takdir, tak ada yang namanya kebetulan.

Namun, ini semua terasa di luar kendali pola pikirku. Pola pikir yang selalu tolak menolak, menghempasku ke benteng tertahan yang melebur tak keruan. 

Aku takut, entah siapa aku itu. Tapi aku takut. Bukan karena Bintang Jatuh yang datang dalam gugusku. Bukan karena aku tak tahu siapa itu Partikel, Petir, Akar, dan dua lainnya. Bukan karena seseorang bernama Kell yang menuar pesona di pesawat dalam keberangkatanku ke Jakarta. Bukan karena ketika itu aku tersadar sesuatu bersamaku, bernapas seirama, mengikat diri atas tiga pola kasak-kusuk Infiltran-Peretas-Sarvara.

Tapi karena si Lollipop Addict. Nicky Evans. Ketika aku tahu, seorang Alfa Sagala yang menjadi The First Pinoy bagi Rebecca, melukai seorang hati wanita tanpa sadar betul apa yang harus dikendali. Nicky Evans, tanpa katawi harfiah yang diperjelas, mengecupku singkat. Dan setelah itu kulihat ransel violetnya serta koper besar hijau neon yang mencolok di tengah kerumunan pergi menjauh. Berusaha berlari melawan arus namun usahanya gagal atas ketidaksinambungan.

Ishtar Summer, wanita itu mencekamku dalam bayang kegelapan yang terus menyeruak datang. Menghantamku dengan ketidakpastian yang merajalela. 

Aku tak suka ini, di saat kebimbangan mengambil alih kendaliku.

Kendati kuharapkan niscaya datang begitu saja, memberitahuku atas sosok itu. Ishtar Summer, apakah ia termasuk dalam tiga pola ini. Apakah ia serong peretas, seorang ilfitran, ataupun sarvara. Beritahu aku setidaknya.

Beri aku kepastian. Tolong. Siapapun.

Kini langkahku sudah tak aman. Tiap petak yang kujejal menciptakan gairah dan kontruksi yang tak sama. Mewanti - wanti nyanyian burung nasar benar adanya. Mewanti - wanti sarvara yang berliku di mana saja. Mewanti - wanti kematian yang kian mendekat.

Berharap adalah satu kunci emas yang bukan hanya sekadar gantungan kunci*. Hidupku bukanlah suatu matra yang diukur dari adanya harapan itu atau tidak. Hidupku berarus, Sianjur Mula - Mula, Batak, Medan, Jakarta, Amerika, New York, .....Tibet.

Namun, kunci emas itu selalu ada dalam perkaraku. Berharap aku akan tertidur dan menerima mimpi itu bukan hanya sekadar selewatnya saja. Aku bukan oneiuronaut, mungkin. Kasus ini bukan sekadar insomnia saja.

Namun.... kematian yang menyapaku tanpa henti.
....
Sensasi ini tak hanya sekadar menganggung. Akan tetapi mengguncang. Sakit kepala yang berkoar di kepala kananku sehingga mata ini sulit membuka. 

O' Canto Era......

Aku mau nyanyian tidur. Entah siapa aku itu. Thomas Alfa Edison, atau Alfa Sagala, atau...... gelombang.

.....

Beberapa jam setelah selesai baca gelombang wkwk. Keren bgt sumpahsumpahsumpah. Greget rasanya pgn ngasih tau Alfa kalau Partikel itu Zarah, dan lain - lain, tapi harus nyadar diri juga, yang baca kok kayak sok tau-_-. Tapi sumpah itu keren bangeeet, bener bener tambah ngefans sama Dewi Lestari Simangunsong.

-LSC-

O Canto Era : with Fandom SUPERNOVA:GELOMBANG

--
O' Canto Era
By: @chynsetyo
Fandom: Supernova : GELOMBANG
*kalimat yang terdapat dalam novel asli karya Dee ini.
...
Antarabhava. Asko. 

Dua kata itu berputar muluk dalam garis kronologisku yang sejatinya tak pernah menyatu dari tiap tariknya. Dua kata itu, seolah mengecohku dan menciptakan sensasi anagram yang sejujurnya tak pernah ada.

Dahulu, ketika tapak kakiku tak mengendus adanya kekeliruan. Ketika aku masih bernapas bersama gunung dan alam*. Ketika hidup tentramku di Sianjur Mula - Mula. Dua kata itu melingkup dalam surut ketakutanku yang mendalam. Peristiwa gondang itu yang menemukanku atas suatu titik suaka tak bernama, Si Jaga Portibi. Ketika Ompu Togu Urat dan Ompu Ronggur Panghutur berkelakar ria tanpa kumengerti siapa yang harus kubela. Dan, ketika itu aku sadar, sulit berdiri di antara pusaran kebimbangan, di saat aku harus menentukan mana yang baik mana yang buruk.

Aku yang mengatur. Thomas Alfa Edison yang mengatur. Alfa Sagala yang mengatur. Dan, kembali aku dipusingkan dengan satu perihal: siapa 'aku' itu?

Seharusnya aku mengerti, gelombang, aku hanyalah raga yang menjadi penopang gelombang itu. 

Namun, sebelum aku memasuki Asko secara keseluruhan, ketakutan itu membuai semakin lama. Semakin larut. Bahkan membutakanku akan sesuatu.

Jika memang benar, sang peretas itu yang mengatur segala ini, penjaga kedai, Norbu, pesan - pesan di kehidupan silam. Kembali jajaran spekulasiku menyerbu, seolah membentuk tombak yang menebasku luput.

Dan kembali aku dihadapkan atas kebimbangan.

Jika memang benar, aku menggantikan posisi Eten dan berimigrasi dengan status ilegal itu sebuah kebetulan, seseorang akan berkata, ah, bukan seseorang. Entah apa itu. Kebetulan itu tidak ada seharusnya, jika segala telah digariskan dalam waktu dan takdir, tak ada yang namanya kebetulan.

Namun, ini semua terasa di luar kendali pola pikirku. Pola pikir yang selalu tolak menolak, menghempasku ke benteng tertahan yang melebur tak keruan. 

Aku takut, entah siapa aku itu. Tapi aku takut. Bukan karena Bintang Jatuh yang datang dalam gugusku. Bukan karena aku tak tahu siapa itu Partikel, Petir, Akar, dan dua lainnya. Bukan karena seseorang bernama Kell yang menuar pesona di pesawat dalam keberangkatanku ke Jakarta. Bukan karena ketika itu aku tersadar sesuatu bersamaku, bernapas seirama, mengikat diri atas tiga pola kasak-kusuk Infiltran-Peretas-Sarvara.

Tapi karena si Lollipop Addict. Nicky Evans. Ketika aku tahu, seorang Alfa Sagala yang menjadi The First Pinoy bagi Rebecca, melukai seorang hati wanita tanpa sadar betul apa yang harus dikendali. Nicky Evans, tanpa katawi harfiah yang diperjelas, mengecupku singkat. Dan setelah itu kulihat ransel violetnya serta koper besar hijau neon yang mencolok di tengah kerumunan pergi menjauh. Berusaha berlari melawan arus namun usahanya gagal atas ketidaksinambungan.

Ishtar Summer, wanita itu mencekamku dalam bayang kegelapan yang terus menyeruak datang. Menghantamku dengan ketidakpastian yang merajalela. 

Aku tak suka ini, di saat kebimbangan mengambil alih kendaliku.

Kendati kuharapkan niscaya datang begitu saja, memberitahuku atas sosok itu. Ishtar Summer, apakah ia termasuk dalam tiga pola ini. Apakah ia serong peretas, seorang ilfitran, ataupun sarvara. Beritahu aku setidaknya.

Beri aku kepastian. Tolong. Siapapun.

Kini langkahku sudah tak aman. Tiap petak yang kujejal menciptakan gairah dan kontruksi yang tak sama. Mewanti - wanti nyanyian burung nasar benar adanya. Mewanti - wanti sarvara yang berliku di mana saja. Mewanti - wanti kematian yang kian mendekat.

Berharap adalah satu kunci emas yang bukan hanya sekadar gantungan kunci*. Hidupku bukanlah suatu matra yang diukur dari adanya harapan itu atau tidak. Hidupku berarus, Sianjur Mula - Mula, Batak, Medan, Jakarta, Amerika, New York, .....Tibet.

Namun, kunci emas itu selalu ada dalam perkaraku. Berharap aku akan tertidur dan menerima mimpi itu bukan hanya sekadar selewatnya saja. Aku bukan oneiuronaut, mungkin. Kasus ini bukan sekadar insomnia saja.

Namun.... kematian yang menyapaku tanpa henti.
....
Sensasi ini tak hanya sekadar menganggung. Akan tetapi mengguncang. Sakit kepala yang berkoar di kepala kananku sehingga mata ini sulit membuka. 

O' Canto Era......

Aku mau nyanyian tidur. Entah siapa aku itu. Thomas Alfa Edison, atau Alfa Sagala, atau...... gelombang.

.....

Beberapa jam setelah selesai baca gelombang wkwk. Keren bgt sumpahsumpahsumpah. Greget rasanya pgn ngasih tau Alfa kalau Partikel itu Zarah, dan lain - lain, tapi harus nyadar diri juga, yang baca kok kayak sok tau-_-. Tapi sumpah itu keren bangeeet, bener bener tambah ngefans sama Dewi Lestari Simangunsong.

-LSC-

Rabu, 17 September 2014

Kau Bintang Dari Suatu Penjelasan Supernova

By @chynsetyo

Aku tak peduli pada bagian tergelap bumi
Ketika jiwa jiwaku bahkan sudah tak dihuni
Aku tak peduli pada kekejaman batin
Ketika sukma ini tak lagi dipimpin

Dari seluruh pengetahuanku,
Hanya satu yang terkutu, mengapa dunia ini sangat elok jika dibanding neraka?
Mengapa surga itu sangat menawan ketika berbanding dunia? Dan mengapa neraka selalu dianggap siksaan, padahal dunia telah kau jadikan siksaan?

Berpikir itu rumit
Karena otakmu hanya tahu yang namanya teori
Berkata itu berbelit
Ketika yang kau tahu hanyalah sejarah histori

Seharusnya kau mengerti, 
Aku menunggu sampai cinta ini mati

----------------

"Yang saya tahu, hanya orang jahat yang bakal berbuat kejahatan. Nyatanya orang teladan bisa melakukannya. Ketika hasrat hewani mereka mengerat, dan apapun bakal mereka lakukan cuma buat uji percobaan. Eh, keliru. Kalau orang teladan bisa ngelakuin kejahatan, sama aja 'kan dia kayak orang jahat lainnya," 

Aku mengenalnya ketika animoku masih bergelayung di atas senja. Di saat senyawa tak bergemuruh membentuk suatu unsur, ia berani mengungkit hal tabu di mataku. Dengan kacamata minusnya, ia berbicara seolah dunia bukan hal yang mistis untuk berbagi rahasia. Entah harus kuyakini ia dari mana, "nama saya Samudra," dan kemudian ia bergelut dengan metaforanya, menceritakan aibnya -yang hanya diumbar kepadaku-

"Kedua orang tua saya adalah ilmuwan, sepasang ilmuwan. Ilmuwan yang bakal nguji segala ilmu yang mereka pikirkan. Saya tanya sama kamu, apa keren jadi anak sepasang ilmuwan?"

Jawabanku terdengar lunglai dan tak mendasar di telinganya, seolah aku sangat sentimental, "Keren, apa - apa kamu bisa nanya aja 'kan," dan saat itu ia menggeleng.

"Kalau kayak gitu sih baru keren. Tapi jadi anak percobaan, itu nggak keren," suaranya mengambang bagai atom - atom yang berkeliaran. Kala itu, matanya bernaung lakasana raja singgasana, alisnya mengangkat layak Zeus dengan petirnya, pesonanya redup termakan kilau Aphrodite. "Mau tahu?" Timpalnya, dan aku mengangguk.

"Ayah dan ibu saya, mereka mengukur keterkaitan diri masing - masing sebagai 'kebutuhan', mengasumsikannya sesuai penuturan Aristoteles, "Manusia adalah makhluk sosial", dengan itu mereka harus saling berhubungan. Dan lucunya, ada sebuah ikrarnya, selesai lulus SMA, mereka akan berhubungan intim. Menguji sebuah ilmu yang udah dipelajari dari sekolah dasar, dan akan dilaksanakan di saat udah gak ada lagi keberatan. Dan apa bedanya kalau ada saya, yang mereka bicarakan, selalu aja teori - teori ngeribetin. Saya bosan di tengah - tengah mereka, menunggu mereka berpelukan rasanya menunggu Poseidon mengenakan helm perang Hades yang mengangkat petir Zeus yang mengayunkan triton Poseidon. Katanya sih, "Melakukan kemesraan di hadapan anaknya adalah tindak kejahatan yang membuyarkan kefokusan didikannya", nyatanya saya udah ngerti apa itu seksual. Aneh 'kan?"

Seterusnya, ia tak berhenti berkata. Menceritakan segala pembicaraannya dengan matang dan dipertegas. Saat itu, suatu kemilau datang, menghantamku dengan suatu perasaan. Aku tertarik kepadanya, dengan matanya yang memandang bumi tanpa mendalami geologi, mengenal rasi tanpa menunjuk galaksi, aku kagum dengan dia, Samudra. Ketika ia berbicara bahwa,

"Sejatinya, dunia gak bakal pernah diukur dari megahnya antariksa, perkasanya bumi hayati. Dunia yang saya kenal, dan selamanya akan seperti itu, ya dunia yang dipenuhi orang dengan ilmunya, dunia yang menjunjung sebuah kedudukan, dunia yang mengagungkan kawanan pembesar, padahal harusnya 'kan dunia yang dipenuhi kaum yang saling ngerti seluas dunia ada, seluas mereka ada, disitu kehidupan dunianya."

Lalu, hari berlalu. Menyisakan titik - titik ranggas kedewasaan diri. Ketika alam tak mampu berkata, ilmu tak diperdaya. Hanya ego yang dipercaya. Satu persatu kawan menghilang, tak ada kabar dari Samudra. Suatu angan jauh ke laut utara, tak pernah berbagi barang botol lautan. Aku kini berdiri, menyepi di atas bara api. Berusaha menggapai sebuah ironi, bahwa jika saja kabarnya bukan lagi kabar burung, Samudra mati.

"Kamu tahu gimana saya terbang?" 

Aku menggeleng. Melihatnya yang memandang berkeliling podium sudah menegangkan batinku. Menyiksaku akan rasa kebersamaan yang seolah ingin habis, tersedot ozon - ozon pelapis bumi.

"Kamu tahu lucid dream?"

Kali ini aku mengangguk, tersenyum seolah pembicaraan ini akan lebih berarti. Ia ikut tersenyum, aku mencelos. Sekiranya hanya beberapa pembagian yang mampu membuatnya tersenyum. Rasa kagumku mengoar, mendengking di kala pelarutan siang menjamu di atas atap - atap. Samudra bukan seseorang yang bodoh untuk diajak bermain, justru - justru orang lain yang dipermainkan.

"Saya ingin merasakannya. Kalau ukuran sleep paralyze sih, saya udah sering. Tapi, ingin nyoba lucid dream rasanya susah banget."

Aku diam, menebak - nebak kemana arah pembicaraan ini akan berlanjut. Sampai sekarang tak ada pertanda jawaban dari 'bagaimana saya terbang'. 

"Kalau saya tiba - tiba jatuh ke bagian sleep paralyze, napas saya pun jadi jatuh, seolah gak ada harapan untuk melihat. Nah, kalau saya mengalami fase lucid, saya merasakan terbang. Terbang jauh, mengendalikan apa yang saya inginkan. Mengendalikan kalau aja dunia gak lagi bergejolak dengan barang - barang fana. Mungkin aja, saya akan senang orang tua saya gak ada di rumah, gak ninggalin saya akan sebuah penelitian yang baru. Saya bingung, seperti apa sih cinta itu?"

Aku mengeluarkan suaraku, suara yang sejatinya jarang kukendalikan. Dengan beberapa jam lalu yang memang aku tak bersuara, kali ini suaraku terdengar melejit. Sangat memalukan, "cinta? Cinta yang gimana dulu nih?"

"Cinta, cinta yang mana aja."

"Itu sih tergantung menurutku. Tergantung kamunya, ada nafsu atau enggak-"

"Saya pasti punya nafsu."

"Maksudku, nafsumu mendefinisikan kata cinta itu seperti apa dulu. Apakah cintamu dengan kedua orangtuamu-"

Ia mengangkat alisnya. Dengan ini, aku tak mengulang kata itu. Berusaha mengabaikannya. "Atau cintamu dengan... dengan, dengan siapa ya? Apa kamu pernah menyayangi seorang wanita?"

"Selalu."

"Oh- oh? Ehm, oke... Jadi- jadi kamu pilih aja yang mana cinta itu."

"Apa kamu cemburu?" Matanya memandangku, mencari kepastian di irisku balik. Aku bergeliat tak senang, sangat tak nyaman.

"Tidak."

"Oh."

"Sepertinya pembicaraan ini jadi ngelantur ya." Aku berdehem. "Aku juga udah suka sama orang lain, jadi aneh kan kalau kamu tanya cemburu."

"Oke,"

Sampai saat ini, aku tak mengerti persaannya di mana. Bagaimana ia mati, itu membuatku bergidik di kali pagi tak lagi matang. Petang menjadi perang. Malam sangatlah suram, fajar bukan suara untuk berujar. Sudah kutegaskan ke otakku, hingga seberapa gila jantungku harus kudegup. 'Samudra mati'.

Lalu sukmaku menelusuk ke parit - parit memori terselubung. Mengingatkanku akan penjamahan yang tak lagi berangsur. Akhirnya kutahu, sebuah kepastian yang telah lama hilang. 

"Kami kumpulan inkompeten yang luar biasa. Mengisahkan pada dunia bahwa kami mampu berbicara." Hari itu, Samudra menjelaskan kepadaku. Menjelaskan sesuatu yang harus kupikir berulang. "Kami kumpulan inkompeten." Timpalnya. 

"Siapa aja? Kurang jelas kalau kamu bilang 'kami' bukan 'kita'. Walau sama arti, tapi orang umum nilainya bakal beda. Siapa aja yang kamu maksud 'kami'?"

"Saya gak bilang 'kita' kok. Berarti bukan tentang saya dan kamu 'kan."

"Lalu?"

"Kemarin saya bertemu seseorang. Orang luar biasa yang kidal. Ia bercerita kepada saya mengenai Nebula Kepiting, sekumpulan sisa - sisa supernova. Oh, itu sangat mengagumkan. Ketika suatu bintang akan mengalami supernova, bintang tersebut akan melepaskan energi setara dengan energi matahari yang dilepaskan seumur hidupnya. Keren 'kan. Ledakannya bakal meruntuhkan sebagaian besar material bintang pada kecepatan 30.000 km/s atau ya mungkin 10% kecepatan cahaya, juga ngelepasin gelombang kejut yang bisa musnahin medium antarbintang. Sayangnya, rata - rata peristiwa supernova hanya 50 tahun sekali di galaksi Bima Sakti. Supernova tuh keren, ia punya peran dalam memperkaya medium antarbintang dengan elemen - elemen massa yang lebih besar. Terus, gelombang kejut supernova bisa ngebentuk formasi bintang baru." 

Aku memandang langit secara spontan. Dan tiba - tiba ia tertawa. "Ya mana ada sekarang."

"Terus kapan?"

"Emangnya saya tuhan, bukan saya 'kan yang ngendaliin. Nah, saya jadi akan berbicara ini 'kan. Maaf, saya harus berbicara sesuai keyakinan saya. Kamu jangan tersinggung. Tuhan saya, Allah SWT, berbeda denganmu. Hebatnya maha kuasa Allah, kejadian supernova pun termasuk unsur dalam menciptakan kehidupan di alam semesta. Unsur - unsur supernova melontar ke ruang angkasa. Unsur ini juga bisa pindah jauh dari tempat bintang ini meledak. Katanya, unsur itu kemudian bergabung membentuk suatu bintang baru atau bahkan planet."

Dia benar. Kepercayaan kami berbeda. Ketika aku mengagung - agungkan kitab Sutta, Vinaya, Abdhidahamma, ia dengan mulianya membacakan ayat Al - Qur'an. Ketika aku harus menekan sistem kausal yang mendalami alam semesta (pratitya samutpada) yang merupakan tatanan alam (dharma) dan sumber pencerahan. Ia akan mengerti, mendalami firman - firman tuhannya -Allah SWT. Pada ajaran kepercayaanku, tak ada ketergantungan pada realitas fenomena supranatural ditegaskan untuk menjelaskan perilaku materi. Menurut ajarannya, manusia harus mempelajari alam ( dhamma vicaya) untuk mencapai kebijaksanaan pribadi ( prajna) tentang sifat hal ( dharma). Dan entah bagaimana dia, Samudra, bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah, dan Muhammad SAW adalah utusan-Nya. 

Kali ini aku terombang - ambing atas perkataannya, seraya bimbang menegaskan apa yang harus kudengarkan. Penjelasannya, atau tiap sorotannya. Sampai sekarang aku harus mengolah tiap pikiranku, 

Bagaimana Samudra mati. 

Bagaimana Samudra mati. 

Bagaimana Samudra mati. 

Ketika kumengingat masa kelam di antara keluarganya, aku mampu berasumsi. Apakah di situ dia mati? Jika kupikirkan ulang, rasanya sudah bertahun lamanya ia diam di antara penjelasan teori alamiah, penerapan daya pikir Auguste Comte, atau bahkan pengolahan untuk menyetarakannya menggunakan 8% otaknya seperti Albert Enstein. Atau bahkan sejenius Dimitri Mandeleev yang memeloporkan pengelompokkan unsur berdasarkan kenaikan massa atom relatifnya, ia tak beronta. Alasan itu bukanlah hal galan untuk dipermasalahkan. Tetap bagaimana kutahu, ia adalah seorang yang tabah, ia bukan orang biasa. 

Lalu, bagaimana dia mati?

Di antara ratusan teorinya, satu pilihanku yang terasa akurat. Penjelasan mengenai supernova. 

Bagaimana Samudra mati? Ia menyiratkanku sebuah makna melewati peristiwa supernova. Entah ia bisa menjadi yang mana. Namun bagiku tetap, ia adalah bintang itu. Bintang yang meledak akibat peristiwa supernova. Dia pula unsur supernova itu. Unsur yang menciptakan kehidupan di nadiku. Unsur yang membentuk bintang baru di jantungku, unsur yang bahkan membuat planet di ragaku.

Unsur yang membuatku takkan melupakannya. Bahwa, aku mencintainya.

...

Dan gilanya aku melupakan sesuatu, melupakan sebuah peristiwa pelumpuh jiwa elok Samudra. Kau tak mengerti bagaimana ia mati berpetik ranjau bergelimang darah, 

Harus kuterapkan, supernova, mahakarya indah di mata air hatta bewarta. Supernova, tatkala kuimbangkan sebuah penuturan, "supernova tuh ngebentuk, bukan dibentuk". 

Kami adalah dua roh paralel, aku dan Samudra. Wanita dan pria. Dua intisari dengan satu perkara. Di mana kami dalam peristiwa supernova? Kusadari, Samudra bintang dan unsurnya. Dan aku...

Akulah ledakannya.

....
Ngaco abis ceritanya. Maksain banget 'kan ya? Tiba - tiba dapet ide kayak gini, langsung tulis dah. Pas bagian ajaran agama Buddha itu, bolak - balik buka internet. Untung juga, ada buku kakak saya -SMA-, jadinya kalau ada beberapa hal yang lupa atau kurang yakin, bisa langsung liat. Oh ya, saya orang Islam, tapi tak ada salahnya mengikut sertakan ajaran agama lain di suatu karya. 

Selamat menikmati, tak ada perbedaan Muslim, Buddhies.

Minggu, 10 Agustus 2014

Pemabuk di Kala Petang

Kala aku diam, bukan berarti marah
Karena aku sudah sekarat parah
Luka - luka bergelinang tak tentu arah
Sungai - sungai berhilir membendung darah
Terjun mata air kala - kala berganti nanah

Bratayudha bukan lagi tentang perang
Akibat Pendawa telah menang
Segalanya hanyalah batas perjuangan
Karena Kurawa akhirnya terbentang

Dengki - dengki t'lah terasuki
Kresna jadi punggung abdi
Sampai - sampai kuterkukung abadi
Sukma bergelayut di hati
Sutta, Vinaya, Abdhidahamma kulewati
Persembahan Bromo bergaunh di tepi
jangan jangan dunia adalah kawasan api
Pelacur senja bermandi asi
Embun kali buta telah basi
Akibat gembel gembel tak butuh nasi
Air air padang jadi rektorasi
Bermegah diri di bawah nestapa kasih

Kau, yang tertidur waktu kelam siang
Terjaga saat malam terang
Kau, obor di atas jiwa padang
Bergemuruh Krakatau pada ledakan
Aku tak ingat kali kali kau ucap taranan
Kau tak punya otak untuk jadi ilmuwan
Hanya hanya intuisi yang gemilang
Kau tak menebak orian di kapan
Hanya asumsikan nebula jempolan
Biadap hatta bewarta kerasan
Kau cumbu ini jadi jeritan
Kau kecup ini jadi sabetan

Cambuk aku dan kuberteriak, "pemabuk di kala petang




Sabtu, 19 Juli 2014

Erangan di Kala Padang Mesiu

By @chynsetyo

Wanita di luar rumah,
Bergamang ria di tengah rimba
Tak satupun yang bersapa ramah,
Hanya jika saja sialnya dapatkan terkaman parah
Karena ketika wanita berjalan pasrah,
Segalanya terbang tak menentu arah
Bahkan jiwa - jiwa takkan bersuara

Anak kecil di tengah ledakan,
Mereka menangis mencari penerangan
Seluruhnya kabur bersamaan
Hilang, tenggelam pasang dari makhluk jahanam
Ketika mereka menangis dan berteriak kencang - kencang
Tak ada satupun yang mampu mendengarkan
Karenanya seluruhnya dalam pengeksekusian

Tanah - tanah tertelan bara yang tak padam
Kalut bergelut di tengah kegelisahan
Mereka serasa mati di atas awan,
Hidup di antara reruntuhan
Mereka pewakil atas tekad yang matang
Kala mata dunia menjadi satu tujuan, 
Mereka kembali menangis kencang - kencang
Tapi waktu menentukan siapa yang datang,
Dunia bergoncang, menyisakan saksi kepedihan
Merekalah korban - korban, atas segala pembelaan

Padang ranjau bukan lagi siksaan
Mesiu, timah panas bukan lagi jadi tembakan
Mereka sudah tahan, lebih dari godaan
Jika saja tak ada yang memerhatikan,
Baru kala itu rasa pedih menerjang,

Pertanyaannya dibenak saling bersilang

Kemana sebuah keadilan?
Di mana raja kebangsaan?
Apa yang mampu jadi pembalasan?
Siapa yang berani menggantikan?
Mereka berjuang, di tengah gulita malam
Namun satu perkara yang jadi harapan,
'Yang menyerang, akan dapat balasan'.

For Gaza-Palestine.

Minggu, 13 Juli 2014

Balada di Tengah Perjalanan Dengan Pendosa Yang Berteori

By @chynsetyo


Suatu hari ketika kau berjalan lunglai dan menebus beribu siluet sekalipun, bahkan kau mampu mencerna atom sampai ke bagian terkecilnya, proton, neutron, elektron. Kau menggapai - gapai cincin - cincin asap di kasat mata dan nampak bagai rasi orion di belenggu galaksi. Karena jika kau berkata tak ada dusta yang mampu kau bayar, satu sukmanya menari dihadapan :

'Kau ada karena kau memang ada. Jadilah, bisanya kau berdiri, maka berdirilah,'

Satu - persatu sel - sel mencapai puncak, trombosit mengatur alur, organ bekerja seimbang. Suatu saatnya datang, segalanya akan terbanting jauh ke lubang terdalam. Yang kau pikirkan, sejatinya, Auguste Comte jangan menilai ini, ia sosiologi pandai yang menjiwai dunia, tak perlu ternodai dosa - dosamu yang menggunung. Akhirnya, kau tak berdaya. Terombang - ambing di tepian gulita kelam. Tak membagi diri, meletup memenuhi antar ruang. Atmosfer takkan membeda, sama seperti terakhir kau tiada.

Lalu sama bagaimananya, kau berpikir, 'Yang kutahu, hanya orang jahat yang berbuat kejahatan. Lalu alaminya, orang teladan pun mampu berbuat jahat. Karena hasrat hewani mereka akan membuas, menguji segala ilmu sebagai bahan percobaan.'

Kau pun mengerti, jiwamu tak peduli akan deduksi, induksi, otakmu bahkan tak dapat mencerna pendekatan kuantitatif. Kau bukanlah seorang informan, kau hanyalah raga berkukuh animo padan.

Karena jelasnya, kau berjalan, beriring di tiap gamang ruas - ruas tiga matra. Akibatnya, kau mati didalam perang dan pasrah saat akhir, ketika kau menyadari. 'Aku telah berjuang'.

Selasa, 08 Juli 2014

Petang

by @chynsetyo

Samudra berjalan angkuh lewati Awan yang datang tanpa salam. Langit hanya diam menunggu Bulan tertawa lebar. Bahkan Guntur tak peduli jika Hujan telat datang, Lembayung menari dengan tangannya yang menggait kabar dari Pasifik.

... : Lewati Malam, aku berjumpa Timur.

'Di pegunungan yang kelam layaknya kumengingat Awan. Kau tahu, betapa rinduku pada canda tawa Bulan. Entah sudah keberapa kali kuingat Samudra jalan. Tak peduli sangat aku akan Guntur dan Hujan, mereka membosankan. Bagaimana pagelaran Lembayung pekan? Seperti berjumpa Timur yang menyenangkan ? Oh lihatlah, dunia menakjubkan dengan Malam, bukan? Jangan bersedih kawan, Petir masih menunggu di lain peninggalan. Ingatkah kalian? Pesisir mencariku sampai ke kediaman Benua di sebrang. Itu membuatku geli bahkan Angin tak henti tertawa di hadapan. Aku merindu di sini tanpa ada Cahaya yang terang. Gelap selalu datang, menyanjungku menghibur di kapan. Namun itu tak galan, ingin aku kembali dan jumpai dunia kita yang tenang.'

Pasifik, yang berirama seiring Petang hilang.

......